@extends('index') Myfunbizz | News
DS 2017b.jpg

Hari Drown Syndrom Seduni

By Gita Fitri Br Tarigan - Tgl Posting Tuesday 21st March 2017 | FUN NEWS

Jejak prestasi Stephanie Handojo (24) sudah ada dimana-mana. Mulai dari juara I di bidang renang gaya dada 50 meter Pekan Olahraga Nasional Special Olympic Indonesia 2010, gaya dada 50 meter Specual Olympics World Summer Games 2011 Athena, pecahkan rekor MURI bermain piano 22 lagu 2009, hingga pembawa obor Olimpiade London 2012.

Seabrek prestasinya itu jadi ajang pembuktian kepada masyarakat bahwa anak dengan down syndrome mampu lakukan banyak hal. 
Dibalik prestasinya itu semua, sosok orangtua dalam membesarkannya menjadikannya seseorang yang berprestasi jadi titik penting. Sang ibu, Maria Yustina Tjandrasari ungkapkan bahwa mendampingi dan mengarahkannya merupakan tanggung jawabnya sebagai orangtua.

"Mengetahui Stephanie down syndrome sejak lahir, saya berkomitmen pada diri saya sendiri untuk tidak bekerja pada orang lain. Saya harus fokus sepenuhnya pada anak," terang perempuan yang akrab disapa Yustin usai acara peringatan Wold Down Syndrome Day yang digagas POTADS di Lapangan Monas, Jakarta pada Minggu (22/3/2015).

Yustin berjanji untuk membuat Stephanie menjadi sosok manusia mandiri. Meski tidak mudah memberi pengarahan dan penanganan pada anak down syndrome, lecutan semangat kembali muncul ketika keinginannya untuk membuat anaknya mandiri.

"Saya melatih motoriknya. Semua harus dilatih dan diarahkan mana yang boleh dan tidak boleh. Semuanya dilakukan dalam proses panjang," terangnya.

Salah satu hal yang dibutuhkan oleh anak-anak down syndrome adalah stimulasi agar ia bisa melayani dirinya seperti anak normal lainnya. Hingga akhirnya ia memasukan Stepahanie ke sekolah umum. Bahkan sejak SD hingga Sekolah Kejuruan Industri Pariwisata Perhotelan ia di sekolah umum.

"Saya tidak hanya persiapkan akademiknya tapi juga mentalnya," terang Yustin.

Keinginan untuk sekolah ini pun diungkapkan sendiri oleh Stephanie tanpa pernah ada sedikit paksaan dari ayah maupun ibunya. "Dia sendiri pernah bilang begini sama saya 'Ma, beri kesempatan Stephanie untuk sekolah ma'," ungkap Yustin.

Yustin mengaku tidak mudah memasukkan anak ke sekolah umum. Ia harus banyak masuk keluar sekolah dan menerangkan kondisi Stephani. Ditolak dan diejek itu dialaminya beberapa kali. Tapi harus dilakukan sebagai bentuk dukungan kepada anak.

 

Dukungan dari kedua adik Stephanie pun diberikan. Mereka bertiga selalu akur dalam berbagai suasana. "Saya tidak membedakan anak, saya memikirkan Stepahie untuk adik-adiknya juga. Jika belum mandiri, nanti bisa repot mereka," jelas Yustin.

 

Sumber : http://health.liputan6.com/read/2195022/sosok-dibalik-prestasi-anak-down-syndrome-stephanie-handojo

Share This Post :

Fun News Recents

Info Libur Lebaran
FUN NEWS of 21st June 2017
Hari Lahir Pancasila
FUN NEWS of 31st May 2017
Temukan Keajaiban dalam 14 Hari!
FUN NEWS of 4th May 2017
Temukan Keajaiban dalam 14 Hari!
FUN NEWS of 4th May 2017
Hari Air Sedunia
FUN NEWS of 22nd March 2017
Hari Drown Syndrom Seduni
FUN NEWS of 21st March 2017
Hari AIDS sedunia
FUN NEWS of 16th March 2017
Hari Kostrad
FUN NEWS of 6th March 2017
Hari Gizi Nasional
FUN NEWS of 1st March 2017
Hari Menanam Pohon
FUN NEWS of 2nd December 2016